Minggu, 15 September 2013

aku dan bias senjaku

Tersamar bias diri mu akan angkuhnya pikiran mu 
Melupakan kisah yang terajut dalam benang sutra 
Terlempar bak bulu domba yang tak berguna 
Mengasingkan ku dari kedalaman sisi hati mu 
Hingga dalam keterasingan ku 
Aku menyadari kau angkuh. 
Kini… takkan ku ingat kenangan tentang mu 
Akan ku lempar jauh kedalam sumur yang tak bisa kau gapai 
Agar kau mengerti sakit ya tak tergapai 
Aku dengn sejuta mahabbah dalam jiwa ku 
Yang kau tampar pilu 
Aku dengan sejuta pengertian ku 
Yang kau buang semu 
Kini akan kau dapati aku yang tegar akan cambukan hati mu 
Aku bisa tanpa mu 
Berharap kau sadar akan ego mu 
Berharp kau takkan kembali saat kau menyadari hanya aku di hati mu 
Aku dan bias senja ku

KADANG ENGKAU MANIS

Engkau datang membawa senyum manis 
Engkau datang membawa cinta 
Engkau datang membawa keranda kesedihan kadang kala 
Engkau datang membawa peti indah penuh kegembiraan 

Wahai sang kekasih yang kupuja....... 
Wahai sebuah nama yang selalu kueja 
Dengan gembira dan tertawa terlunta-lunta 
Dengan sakit merakit dijiwa 

Saat ini mulut ini bergumam... 
Menyebut nama indahmu... 
Kumenyanyi berdendang selalu menyebut namamu.... 

Mungkin engkau tak mendengarnya..... 
Mungkin engkau tak merasakannya..... 
Tapi, yang jelas lidah ini tak berhenti bergetar menyebut namamu CINTA..

aku jatuh cinta

Terkadang di malam hari
Saat langit ku pandangi
Kumulai memikirkanmu dan bertanya pada diriku sendiri "mengapa" 
"Mengapa 'ku mencintaimu?"
'Ku berpikir dan tersenyum
Karena Aku tahu
Alasannya bisa terus jauh terbang 
Bisikan suaramu
Hangat sentuhmu
begitu banyak hal-hal kecil Yang membuatku sangat mencintaimu
Caramu menciumku
Memenuhi gairahku
Caramu memelukku dengan hangat api (cintamu)
Cara matamu berbinar
saat menatapku
Tersesat bersamamu untuk selamanya adalah tempat yang aku mau
Yang aku ku rasakan
saat  kau disampingku
adalah perasaan kesempurnaan Penuh kebanggaan
Mimpi-mimpi yang kuimpikan
Semua tentang kamu
Kemungkinan yang aku lihat Sesuatu yang kita bisa perbuat
Bagaiman teka-teki ini kau pecahkan
Teka-teki yang bersandar dalam hati,
Sungguh engkaulah bagian Jiwaku yang paling utama..
Ku bisa saja berhari-hari terus bercerita
bercerita apa yang kurasakan 
Tapi semua yang sungguh harus kau ketahui
adalah "Cintaku untukmu Sungguh adanya"

CINTA terpendam

lama kumenunggu
lidah ku yg kelu dan membatu
ungkapkan rasa dalam hatiku
ku disudut tertersipu,

hari2 ku ingin bersamamu
ku tak tau bagaimana ungkapkn itu
tetes air mata kala sepiku
ku ingin memilikimu

dayaku tak mampu…
ku gantung kan rindu …
ku tepikan ragu…
ku jauh kan bayanganmu…

namun hatiku slalu memikirkanmu
nama mu terukir dilubuk hatiku
ku menanti satu kata darimu
diamku bukanlah membisu….

KEKASIH

bagiku....

kau yang terindah di hidup ku....

kau yang terbaik dalam kisah ku....

kau semangat motivasi ku....

kau inspirasi dari setiap imajinasi ku....

MENCARI JATI DIRI

Hidup ialah sebuah perjalanan dari ranjang kelahiran menuju pintu kematian. Kehidupan ialah seibarat tanah lapang yang kita jumpai di dalam perjalanan yang harus dilalui.
Terkadang, seseorang menghabiskan masa hidupnya sampai tujuh puluh atau delapan puluh tahun hanya untuk menempuh jarak yang tak sampai beberapa puluh kilometer saja. Yakni, jarak dari tempat di mana ia dilahirkan ke tempat di mana ia dikuburkan. Tak seorangpun tahu  berapa lama ia akan hidup di dunia ini, karena kematian selalu mengintainya dari dekat, bagai penyamun yang mengendap-endap siap menerkam, menunggu lengah. Tak seorangpun dapat memastikan apakah ia masih bernafas esok hari.
Ketika Tuhan berkehendak menciptakan kita, pada awalnya kita ini hanyalah sebuah noktah zarah berupa tanah, terhimpit di antara hamparan tanah lainnya di bumi yang amat luas ini. Kemudian Dia mengubah bentuk fisik ini menjadi berbagai bentuk fisik lain secara bertahap. Menjadi zat Hara yang diserap oleh akar tanaman. Menjadi makanan yang direjekikan kepada manusia. Menjadi hormon di dalam tubuh. Lalu menjadi setitik nutfah.
Ketika kita lahir dari rahim ibu, secara jasmaniah tubuh kita mulai terwujud di dunia ini. Lalu kita dipupuk menjadi besar, semakin besar, sehingga dewasa. Pada usia belasan atau dua-tiga puluhan tahun, kita mengalami masa-masa penuh kekuatan, tenaga, dan keperkasaan. Rasa-rasanya, apapun akan sanggup kita tantang dan kita labrak pada masa-masa demikian itu.
Tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum proses kelahiran kita itu. Hanya dari pengetahuan yang kita dapatkan sajalah kita baru tahu bagaimana rumit dan halusnya proses kelahiran itu. Dari setetes mani yang berisikan jutaan sel jantan, hanya satu sel saja yang sempat bertemu dengan sel pasangannya, dan kemudian berkembang menjadi setetes darah, lalu menjadi segumpal daging, lalu dibentuk menjadi janin, dan pada ahirnya lahir sebagai manusia.
Bayangkan! Andai saja yang berkembang itu adalah sel yang lain, siapakah jadinya yang mendapatkan kesempatan waktu itu? Diri kita-kah yang lahir?

Jadi, tidakkah ini merupakan sebuah keberuntungan, bahwa kita telah diberi kesempatan untuk melihat dunia ini? Lalu, untuk apa? Untuk apa Tuhan menciptakan kita? Apakah hanya sekadar memenuhi sebuah keisengan belaka?
Cobalah sekali sekali kita menafakuri benda-benda di sekitar kita. Lihatlah sebuah kursi, misalnya, lalu berpikirlah, “Untuk apa orang membuat kursi ini?” Kita akan segera bisa menjawabnya, “Oh, kursi ini sengaja dibuat untuk menjadi tempat duduk”. Lalu lihatlah sebuah rumah, dan pikirlah, “Untuk apa orang membuat rumah ini?” Kita pun akan segera mendapatkan jawabannya, “Ah, rumah ini sengaja dibuat orang untuk bertempat tinggal”. Dari situ, kita akan mengerti bahwa setiap benda pun sengaja dibuat untuk maksud-maksud tertentu. Setelah itu tafakurilah diri kita sendiri, lalu berfikirlah, “Untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini?”
Dapatkah kita menemukan jawabnya?

kutemukan

ku temukan dalam jiwa,
smua indah nya rasa,
ktika ku jatuh cinta,
pada pandang pertama...


di dalam sepi ini,
ada hadirmu kasih,
mnemani stiap langkah hidup ku yang pedih,

namun,,saat kau acuhkan ku,
rasa kcewa hadir menyelimuti stiap langkah hidup ku,
rasa sakit menerpa smua bagian tubuh ku,
gundah & gelisah sllu datang di stiap waktu,


namun smua itu tak menyurutkan ku tuk sllu mencintaimu dan menyayangimu sampai akhir nafas hidup ku.